Gula Kelapa Banyumas: Warisan, Rasa, dan Asa
Oleh : Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr, Ph.D
BAGI masyarakat di kawasan eks-Karesidenan Banyumas (yang meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara), gula kelapa bukan sekadar produk pangan. Ia adalah bagian dari denyut kehidupan sehari-hari yang telah diwariskan turun-temurun.
Dari dapur-dapur desa hingga pasar tradisional, gula kelapa hadir dalam berbagai bentuk, baik cetakan batok maupun gula semut kristal.
Prosesnya yang sederhana dan sarat nilai budaya, membuatnya lebih dari sekadar komoditas, tapi juga warisan yang menyatukan generasi.
Anak-anak tumbuh besar dengan melihat ayah mereka memanjat pohon kelapa, menderes (menyadap) nira setiap pagi, sementara sang ibu dengan sabar mengaduk nira di tungku kayu bakar.
Tradisi itu tak hanya menciptakan produk, tetapi juga membentuk identitas sosial Banyumas yang sabar, ulet, dan guyub.
Lebih jauh, gula kelapa telah menjadi simbol kearifan lokal. Ia mencerminkan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, tanpa merusak lingkungan.
Pohon kelapa dipelihara di pekarangan desa, nira disadap tanpa menebang, dan hasilnya diolah dengan bahan bakar alami.
Dalam konteks modern, praktik ini selaras dengan semangat pertanian organik dan prinsip ekonomi hijau.
Tak berlebihan bila gula kelapa dianggap sebagai “produk ramah bumi” yang lahir jauh sebelum konsep sustainability menjadi tren global.
Dari sudut pandang budaya, kehadirannya juga erat kaitannya dengan kuliner lokal, hajatan keluarga, dan ritual tradisi, sehingga mempertegas posisinya sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
Kini, ketika tren konsumsi global bergerak ke arah produk alami, sehat, dan berkelanjutan, gula kelapa Banyumas menemukan momentum emasnya.
Permintaan dunia terhadap pemanis alami yang rendah indeks glikemik terus meningkat, menggantikan gula tebu rafinasi yang dianggap kurang sehat.
Inilah peluang besar bagi Banyumas untuk mengangkat produk tradisionalnya ke panggung internasional.
Dengan sentuhan modern berupa kemasan yang menarik, sertifikasi organik, serta promosi yang tepat, gula kelapa Banyumas bisa menjelma dari sekadar pangan lokal menjadi ikon ekspor global.
Potensinya tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat desa, tetapi juga memperkaya citra Indonesia sebagai negara penghasil pangan sehat kelas dunia.
Dari pekarangan desa ke pasar dunia
Produksi gula kelapa atau gula semut di Banyumas telah berlangsung turun-temurun. Pohon kelapa yang tumbuh di kebun-kebun kelapa dan pekarangan rumah penduduk di desa menjadi bagian integral kehidupan masyarakat.
Dari sisi ekonomi, kontribusi gula kelapa terhadap kesejahteraan masyarakat sangat signifikan. Ribuan rumah tangga di Banyumas dan sekitarnya menggantungkan hidup dari usaha penyadapan nira dan produksi gula.
Menurut data resmi, sepanjang tahun 2024, Kabupaten Banyumas berhasil mengekspor 5.342 ton gula semut ke berbagai negara tujuan, menegaskan posisinya sebagai basis industri gula kelapa nasional.
Jika dikonversi dengan harga rata-rata Rp 30.000 per kilogram di pasar ekspor, nilai ekonomi dari ekspor tersebut bisa mencapai lebih dari Rp 160 miliar dalam setahun.
Secara lebih luas, kinerja ekspor gula kelapa Indonesia memang menunjukkan tren yang konsisten meningkat.
Data dari International Coconut Community mencatat bahwa ekspor gula kelapa Indonesia tumbuh dari 25.365 ton (42,68 juta dollar AS) pada 2017 menjadi 41.177 ton (73,86 juta dollar AS) pada 2021.
Peningkatan hampir dua kali lipat ini diperkuat pula oleh pasar Amerika Serikat yang melonjak dari 20.703 ton (2012) ke 45.909 ton (2021).
Angka-angka tersebut mencerminkan peluang yang semakin manis bagi produsen lokal, terutama Banyumas sebagai episentrum gula kelapa nasional.
Potensi manis yang belum optimal
Skala produksi gula kelapa atau gula semut di Indonesia juga terus berkembang. Statistik Terkini Pertanian (Maret 2024) mencatat produksi gula semut nasional sebesar 45.130 ton, naik 3,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, beberapa sumber data dari kementerian dan lembaga penelitian menyebut bahwa kontribusi Banyumas terhadap produksi gula kelapa total secara nasional berkisar antara 40–50 persen, meneguhkan status wilayah ini sebagai lumbung utama komoditas.
Meski demikian, data perdagangan menunjukkan Indonesia masih tercatat sebagai net-importir gula semut, dengan ekspor baru mencapai sekitar 83 persen dari volume impor.
Padahal, dari sisi daya saing, analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) menunjukkan Indonesia memiliki rata-rata nilai 2,55, menandakan posisi kompetitif di pasar global.
Bahkan, di pasar Arab Saudi nilai RCA Indonesia mencapai 36,92, sementara di Singapura 11,90. Kondisi ini menunjukkan potensi besar yang masih bisa digarap melalui peningkatan produksi dan penguatan hilirisasi.
Kabar baik datang dari upaya hilirisasi yang mulai memberi hasil konkret. Sejak beberapa tahun terakhir, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah Kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara membantu benih dan memfasilitasi pengembangan Kelapa Genjah Entok dan Kelapa Genjah Bali Kuning sebgai sumber bahan baku nira di kabupaten-kabupaten ini.
Sebagai gambaran, pada Maret 2025, Koperasi Induk Nira Lestari di Kulon Progo berhasil mengekspor 20 ton gula semut ke Kanada senilai Rp 800 juta dan 2 ton ke Malaysia senilai Rp 300 juta.
Harga jual di pasar internasional bahkan bisa mencapai Rp 30.000–Rp 50.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan harga domestik.
Banyumas, dengan kapasitas produksinya yang besar, tentu berpeluang meniru bahkan melampaui capaian tersebut jika didukung inovasi kemasan, standardisasi mutu, dan promosi pasar.
Tantangan terbesar bagi keberlanjutan gula kelapa Banyumas terletak pada konsistensi kualitas, posisi tawar petani, dan regenerasi.
Masih banyak produk dihasilkan secara tradisional tanpa standar mutu seragam, sehingga warna, aroma, dan kadar air bervariasi. Petani pun cenderung lemah dalam menentukan harga karena bergantung pada tengkulak.
Sementara itu, profesi penyadap dianggap berat, berisiko, dan kurang bergengsi, membuat generasi muda enggan melanjutkan usaha keluarga.
Di sisi lain, pasar premium menuntut sertifikasi organik, fair trade, atau halal. Proses ini membutuhkan biaya dan pendampingan teknis yang sulit dijangkau petani kecil tanpa dukungan pemerintah. Padahal, justru segmen inilah yang menawarkan harga terbaik di pasar global.
Karena itu, strategi terintegrasi mutlak diperlukan. Pertama, peningkatan kualitas melalui pelatihan dan pendampingan intensif.
Kedua, penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern agar posisi tawar meningkat.
Ketiga, fasilitasi sertifikasi oleh pemerintah untuk menembus pasar premium. Keempat, diplomasi dagang dan promosi internasional guna memperluas jangkauan ekspor.
Kelima, insentif regenerasi petani, misalnya melalui beasiswa, pelatihan wirausaha, atau kredit usaha bagi pemuda desa yang mau menekuni industri gula kelapa.
Dengan strategi ini, masa depan gula kelapa Banyumas akan semakin cerah. Produk bernilai tinggi yang lahir dari nira pohon kelapa di pekarangan desa ini juga sesungguhnya menyimpan kekuatan besar, baik sebagai penggerak ekonomi lokal, simbol budaya, maupun ikon ekspor Indonesia.
Dunia kini tengah mencari pemanis alami dari alam, dan gula kelapa Banyumas hadir tepat pada waktunya. (*)